Note: Tulisan ini tidak memiliki dasar ilmiah maupun dasar agama.
Semua yang ada di tulisan ini adalah hasil imajinasi dan pemikiran
penulis semata. Tidak ada maksud menyesatkan maupun menodai ajaran
agama.
Melepaskan
Sad but true, melepaskan orang yang cukup lama menghuni
suatu sisi di kehidupan kita itu seperti melepaskan separuh dari diri kita
sendiri. Melepaskan karena badannya tidak bisa lagi berdekatan dengan kita,
atau hatinya yang sudah tidak ada nama kita lagi di dalamnya. Lebih sedihnya,
kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya.
Akhirnya, semua harus berakhir. Sedih memang, tapi hidup
harus berlanjut. Kita tidak bisa menutup pintu bagi orang baru untuk datang ke
kehidupan kita atas dasar kita masih menyisakan ruang untuk orang yang jelas
jelas sudah (ingin) pergi dari hidup kita.
Aku pernah membaca suatu kalimat yang bunyinya kurang lebih
seperti ini: "Aku pernah menghabiskan waktuku untuk mengejarmu. Bila kini
tidak ada aku di hidupmu, anggap saja aku sudah belajar menghargai waktu."
(Maaf sumbernya lupa. Silakan diklaim
kalau merasa memiliki). Aku benar benar mengagumi ungkapan tersebut. Padat dan
syarat makna. Terkadang kita memang
harus lebih menghargai keberadaan diri kita sendiri.
Tentang Hujan, Longsor, dan Hal Lain yang Menurut Kita Buruk
Hari Minggu kemarin, dadakan teman mengajak aku pergi ke
curug. Sebenarnya sudah dua kali dia ngebet ingin pergi ke sana. Tapi karena
beberapa alasan, selalu saja tidak jadi. Hari itu dia menagih lagi untuk
kutemani. Karena tidak enak mau menolak sudah beberapa kali membatalkan, aku
pun mengiyakan ajakannya.
Salah Sangka
Lagu dari band Cokelat berjudul Karma sedang terngiang di kepalaku. Apalagi bagian reff-nya yang pas "sekian lama kita bersama ternyata kau juga sama saja.". Lagu jadul memang. Boleh dikatakan tertinggal zaman dibanding lagu-lagu dari penyanyi atau band sekarang macam Tulus, Isyana, Raisya, Noah, D'masiv, atau yang lainnya. Tapi menurutku band dan lagu-lagu jaman dulu justru lebih awet dan berkualitas dibanding lagu zaman sekarang. Memang tidak semua, tapi kebanyakan. Ini menurutku. Entah telingaku yang terlalu konservatif atau orang lain yang cuma menggunakan musik sebatas pengisi suara di kuping semata.
Belajar Mencintai Alam
Begini-begini, aku pernah mengikuti diklat sebagai pecinta alam di kampus, merasakan dibentak bentak oleh senior, berjalan di kegelapan tengah malam, tidur dua jam hanya beralaskan tanah berpayung jas hujan, pernah juga merasakan romantisnya berciuman dengan tanah, pohon dan benda alam lainnya. Pernah juga kedinginan di gunung hampir hipotermia karena berpisah dengan teman teman sependakian. Semua memang tidak menjadikanku sebagai orang yang gemar mendaki gunung atau menjelajah hutan. Tapi setidaknya dari diklat itu muncul dalam hatiku sedikit rasa cinta terhadap alam dan pelajaran bagaimana memperlakukan alam dengan lebih bijaksana.
Hidup di kota besar seperti Bogor yang kebetulan menyewa kamar dekat sungai dan jembatan membuatku banyak melihat orang-orang keparat yang dengan seenaknya melemparkan sampah ke sungai. Mereka tidak sadar kalau sampah-sampah tersebut sangat teramat mencemari sungai. Secara biologis, sampah yang dibuang ke sungai akan mempengaruhi ekosistem sungai. Apalagi jika dalam sampah yang dibuangnya itu terdapat bahan kimia yang bisa membunuh ikan-ikan yang hidup di sungai. Lebih jauhnya, sampah itu bisa terbawa arus dan sampai ke laut. Jika sudah sampai di laut tentu akan lebih bahaya bagi ekosistem laut. Ditinjau dari sudut pandang lain, sampah yang menggunung akan menghambat aliran sungai. Ketika musim hujan turun, aliran air akan tersendat oleh sampah-sampah yang dibuang itu dan akhirnya menyebabkan banjir. Jika sudah banjir, semua orang di sekitar sungai menjadi korbannya.
Kembali ke soal mencintai alam, aku percaya bahwa alam ini sebenarnya hidup. Dia memberikan respon terhadap setiap perlakuan yang diberikan manusia kepadanya. Contoh kecilnya ya banjir itu tadi. Ketika manusia memberi perlakuan negatif kepada alam, alam pun akan memberi respon negatif kepada manusia. Begitu sebaliknya. Manusia seharusnya bisa hidup berdampingan dengan alam. Alam sudah menyediakan tempat hidup yang nyaman kepada kita. Kita pun harus berterima kasih pada alam dengan sebaik baiknya.
Hidup di kota besar seperti Bogor yang kebetulan menyewa kamar dekat sungai dan jembatan membuatku banyak melihat orang-orang keparat yang dengan seenaknya melemparkan sampah ke sungai. Mereka tidak sadar kalau sampah-sampah tersebut sangat teramat mencemari sungai. Secara biologis, sampah yang dibuang ke sungai akan mempengaruhi ekosistem sungai. Apalagi jika dalam sampah yang dibuangnya itu terdapat bahan kimia yang bisa membunuh ikan-ikan yang hidup di sungai. Lebih jauhnya, sampah itu bisa terbawa arus dan sampai ke laut. Jika sudah sampai di laut tentu akan lebih bahaya bagi ekosistem laut. Ditinjau dari sudut pandang lain, sampah yang menggunung akan menghambat aliran sungai. Ketika musim hujan turun, aliran air akan tersendat oleh sampah-sampah yang dibuang itu dan akhirnya menyebabkan banjir. Jika sudah banjir, semua orang di sekitar sungai menjadi korbannya.
Kembali ke soal mencintai alam, aku percaya bahwa alam ini sebenarnya hidup. Dia memberikan respon terhadap setiap perlakuan yang diberikan manusia kepadanya. Contoh kecilnya ya banjir itu tadi. Ketika manusia memberi perlakuan negatif kepada alam, alam pun akan memberi respon negatif kepada manusia. Begitu sebaliknya. Manusia seharusnya bisa hidup berdampingan dengan alam. Alam sudah menyediakan tempat hidup yang nyaman kepada kita. Kita pun harus berterima kasih pada alam dengan sebaik baiknya.