The Most Stupid Thing that I've done

07 Maret 2011

Ujian Sekolah hari pertama, Bahasa Indonesia-PAI

Jam pertama berlangsung monoton, membosankan. Soal-soal yang keluar seperti biasa kebanyakan bacaan dan pemahaman. Cukup mudah sih kalau kita benar-benar paham materi sama teliti ngerjainnya.

Istirahat

Apa ini ? anak-anak pada nyiapin kertas contekkan. Aku kira kelas IPA 3 doang yang dapet bocoran jawaban, ternyata kelas lain juga sama. Wah... ga bener ini. Dan percayalah jika kubilang hampir semua anak di ruanganku menyiapkan kertas contekkan. Orang-orang yang kuanggap pintar pun sama dengan yang lain, nyiapin juga “catetan kecil”.

Apa aku harus melakukannya ? Tidak, pantang bagiku untuk berbuat seperti itu (kecuali kalau kepepet, hehe...). Namun, keyakinanku pun mulai goyah, takut jika soal-soal yang keluar meleset dari perkiraanku. Mungkin ini bisa masuk dalam kategori kepepet. Dan asal kau tahu, aku sama sekali belum menghapal pelajaran ini.

Keyakinanku runtuh. Dengan sangat sadar kutulis bocoran itu dalam selembar kertas kecil. Kusilipkan di papan alas serapi mungkin.

Bel masuk berbunyi setelah beberapa saat kusembunyikan kertas bocoran itu. Para pengawas kemudiam membagikan soal beserta lembar jawaban.

Kubuka lembar soal halaman pertama dan seterusnya. Soal nomor 1, meneruskan penggalan ayat dari surat Al-Baqarah ayat 30, soal yang sangat mudah bagiku. Aku sedikit tersenyum saat membaca penggalan ayat ini. Ada sebuah kenangan bersama ibuku tentang ayat ini, yang muncul begitu saja tanpa kuperintahkan. Tapi tak perlu kuceritakan kenangan itu di sini.

Pengawas I menghampiriku, menyuruhku menandatangani berkas absen. Aku agak kaget ketika beliau mengambil papan alasku. Darahku serasa memenuhi ubun-ubun. Otakku berhenti berpikir. Tapi untunglah, beliau hanya melihat kelengkapan data dalam lembar jawabanku, dan berlalu setelah aku selesai membubuhi tanda tangan di setiap berkas.

Soal demi soal berhasil kujawab tanpa melihat kertas kecil yang telah kuselipkan tadi, sampai pengawas ke II datang untuk mengumpulkan kartu peserta. Dengan sangat hati-hati kucabut kartu yang kupakai menutupi kertas kecil itu pelan-pelan supaya kertas itu tidak ikut tercabut, dan sial, kertas berengsek itu malah ikut keluar, muncul tanpa bisa kutahan. Darahku benar-benar memenuhi ubun-ubunku kali ini. Seperti ada getaran listrik yang menyengat seluruh tubuhku. Gembel... padahal, asal kau tahu saja, kertas sialan itu benar-benar ga berguna untukku. Tanpa kertas sialan itupun aku bisa mengerjakan semua soal, walau ada sebagian yang kutebak dan kukira-kira. Tapi untunglah, pengawas II itu ngga heboh, ga tau deh nanti di ruang guru atau ruang panitia. Dengan sangat kesal kuremas kertas sialan itu dan kulempar jauh jauh dari hadapanku.

0 komentar:

Posting Komentar