Tentang Sebuah Pilihan




Hidup sampai kapan pun selalu tentang memilih. Bahkan (memilih) untuk tidak memilih juga sejatinya adalah sebuah pilihan. Teman dekat gue belum lama ini lulus kuliah dari sebuah perguruan tinggi yang sama dengan gue. Dengan itu dia resmi jadi Sarjana Kedokteran Hewan. Sahabat yang sedari SMP, SMA, dan kuliah satu almamater sama gue itu sudah melakukan pilihan penting dalam hidupnya.

Sahabat Leuwi Kopo



Sudah beberapa malam minggu aku tidak mengisi blog ini dengan tulisan. Bukan karena sibuk, tapi aku merasa tidak ada yang bisa kutulis.  Ide-ide dan inspirasi seperti menghilang begitu saja dari kepalaku.  Entah ini positif atau negatif, tapi akhir-akhir ini tidak banyak yang menjadi pikiranku.

Sering berkumpul dengan teman-teman ternyata membuatku banyak melupakan beban-beban dalam kepala. Positifnya, skripsiku mengalami kemajuan. Meski tidak begitu signifikan, setidaknya aku tidak jalan di tempat.  Adanya tempatku menumpahkan segala pertanyaan membuat jalanku sedikit lebih mudah.  Negatifnya, aku banyak maen game dan jajan di luar.  Tidur jadi tidak teratur dan sering begadang.  Yah mumpung masih bisa bareng bareng lah…

Sebagian besar waktuku akhir-akhir ini aku habiskan di kostan teman-teman dibanding kamarku sendiri. Aku semacam menemukan teman-teman baru dan lingkungan baru.  Padahal sudah empat tahun lebih aku mengenal mereka.  Memang baru-baru ini aku sering ke tempat mereka.  Dulu-dulu lingkunganku kalau tidak dengan teman omda, ya teman yang lain.

Kadang aku merasa aneh dengan sikapku sendiri.  Hari ini aku dekat dengan orang-orang ini, bisa saja besok aku dekat dengan teman-teman yang lainnya.  Semoga aku tidak termasuk orang yang suka berpindah-pindah “tempat bermain”.  AKu berpikir orang-orang yang menghargai kehadiranku sudah selayaknya aku hargai pula kehadiran mereka.

Bapak Penjual Susu



Sudah dua hari ini aku shalat duhur di masjid, dan dua hari ini pula aku bertemu seorang bapak-bapak yang juga shalat di sana. Mungkin Bapak itu memang selalu shalat duhur di masjid. Tidak ada yang aneh dengan bapak yang akan kuceritakan ini, kecuali rompi warna biru bertuliskan merk susu nasional yang kulihat dalam dua hari ini selalu dipakainya. Dari sana aku tahu bahwa bapak itu adalah tukang jual susu kemasan keliling yang biasanya memakai sepeda dalam berjualannya. Kulitnya cokelat tua mengilat tanda terlalu sering terbakar matahari. Bau keringat sedikit tercium yang dengan tegas menyiratkan bahwa dia telah melakukan aktivitas berat seharian. Mungkin berkeliling kampung menjual susu dagangannya. Kupiah bundarwarna putih melekat di kepalanya ketika dia seang melaksnakan shalat. Pasti telah dia siapkan sejak berangkat dari rumah tadi. Dia telah mempersiapkan jikalau harus melaksanakan shalat di dalam perjalanannya mencari nafkah.

Melihat bapak itu, aku kembali diingatkan, bahwa di dunia ini masih ada orang yang walaupun hidupnya sederhana, seharian mencari nafkah yang hasilnya tidak seberapa dibanding harga kebutuhan yang terus meningkat, dia tetap taat menjalankan perintah Tuhannya. Ketika kebanyakan orang rakus dengan harta hingga lupa untuk apa dia hidup di dunia, ternyata masih ada segelintir orang yang masih bisa hidup seserhana namun bersahaja.

Menilik orang-orang di atas sana, yang melabeli diri mereka wakil rakyat, atas nama rakyat dengan teganya mereka memperkaya diri mereka sendiri. Menuntut pasilitas ini dan itu tanpa disertai kinerja yang memuaskan. bayangkan saja, mereka tidur di kursi empuk di ruangan dingin ber-AC yang mereka namai ruang sidang, atau bahkan tidak hadir karena mengurusi urusan pribadinya, mereka tetap saja menerima uang gaji sebagai wakil rakyat. Padahal rakyat yang katanya mereka wakili harus banting tulang mengais rejeki yang tidak seberapa dibanding wakilnya. Bukan bermaksud me-stereotipe, hanya kebanyakan demikian. 
Ah, untuk apa pula aku membicarakan orang di atas sana. mending aku memperhatikan bapak penjual susu tadi yang telah memberikan pelajaran berharga siang ini.

Orang Baru Versus Orang Lama

Teknologi berkembang dengan super super cepat. Dulu media sosial satusatunya ya sms atau telefon. Sekarang, banyak sekali media sosial yang bisa kita akses. Mulai dari sekedar berbentuk gambar, atau bentuk lainnya.  Sekarang semua hal sudah berbasis internet. Orang jaman dulu harus datang kesana kemari sambil bawa setumpuk berkas kalau mau melamar pekerjaan. Paling banter kirim lewat pos. Sekarang, kita tinggal ubah surat surat itu jadi bentuk digital, lalu kirim lewat email. Tak perlu jalan jauh jauh dan panas panasan.

LGBT... WOW

Menurut saya, LGBT yang isyu-nya sedang hangat-hangatnya di negeri ini benar benar mengerikan. Ini semacam "ancaman" yang sama sama harus kita cegah dan hentikan akibatnya.  Dulu kala di zaman nabi Luth / Lot, kaum lelaki waktu itu kebanyakan tidak tertarik kepada wanita.  Mereka meninggalkan instri-istrinya dan pergi ke lelaki lain untuk saling "berhubungan". Kaum wanita pun tidak jauh berbeda.  Mereka mendatangi wanita lain untuk saling "berhubungan"  Karena perbuatan mereka yang terlampau batas, Tuhan pun menghukum mereka dengan gempa bumi yang dahsyat,  angin badai dan hujan batu yang mengerikan.  Coba bayangkan kalau hal itu menimpa negeri kita.    Jangan bilang tidak mungkin.  Tuhan Itu Maha Besar.  Gak ada yang mustahil buat Dia.

Just Turn Off Our Television

Sudah lama gue merasa muak, lelah, risih, jengah dengan acara-acara yang ditayangkan di pelbagai stasiun televisi indonesia. Dari 24 jam dan sekian banyak stasiun tivi swasta yang tayang, hanya beberapa acara saja yang masih mementingkan kualitas acara, bukan rating semata.   Hanya sedikit acara yang masih sesuai tema dan fokus pada tema.  Acara musik lebih mirip talkshow, lawak lawakan, lomba tujuh belasan, sedangkan acara lawak malah menjadi ajang ledek ledekan dan hina-hinaan muka.  Sinetron yang tayang bukannya menghibur dan menyisipkan pesan moral malah dijadikan ajang pamer, cinta-cintaan, dan perih perihan semata.  Tayangan berita sudah hilang sikap netralnya. seolah memihak dan mendukung kepentingan satu pihak saja, bukan mengedepankan sisi informatif.

Paling parah acara sinetronnya. Belum tamat manusia-manusia yang bisa berubah jadi serigala atau harimau, muncul segerombol geng motor yang suka pamer. Yang dimuat kebanyakan cinta-cintaan ga jelas yang membuat bocah SD sudah mau pacar-pacaran.  Lihat bagaimana dahsyatnya sinetron sampai bisa merubah perilaku manusia, menggeser zaman dengan drastisnya.  Jangan jangan suatu saat nanti, bocah 10 tahun sudah keluar sperma... mengerikan.

Ada lagi acara musik yang ketukar dengan acara komedi.  Tema acaranya sih musik, tapi musik yang diputer gak lebih dari 10 persen waktu tayang. Belum lagi musik yang ditampilkan kebanyakan dari pemusik-pemusik baru yang "terburu" mengejar popularitas semata.  Memang tak semua.  Tapi kebanyakan.

Acara komedi berubah jadi ajang hina-hinaan.  Semacam masak aer biar mateng. Kalo udah mateng siram ke muka lo. Dialog semacam "muka lo kayak pantat" sudah tidak asing di telinga.  Belum lagi acara tabur-taburan tepung dan bedak, yang membuat si "komedian" terlihat semakin idiot saja.  Anehnya, mereka masih saja ditertawakan.

Kita memang tidak bisa men-stereotipe semua acara yang tayang.  Masih banyak acara-acara bermutu yang tayang di stasiun televisi tertentu pada jam-jam tertentu. Gue bertepuk tangan pada stasiun Net. tv yang banyak menampilkan acara-acara "serius". Acara musik semacam blcakout patut dipertahankan.  Konsepnya memang rada-rada mirip MTV dulu.  Tapi setidaknya mereka masih sungguh sungguh mengusung tema musik.  Ada lagi terobosan asik kayak Music Everywhere.  Selain menampilkan musik, acara ini juga informatif mengulas sisi musisi yang banyak orang belum mengetahuinya. Atau acara informatif seperti Selamat Pagi yang banyak memberi info-info yang segar bagi kita.

Untuk acara sinetron, gue salut sama sinetron Preman Pensiun yang tayang di RCTI. Selain menjadi tontonan yang menghibur, sinetron ini juga menampilkan tuntunan bagi penontonnya.  Banyak pesan-pesan moral yang bisa kita ambil dari ceritanya.  Dan yang pasti, tidak ada unsur cinta-cintaan berlebihan atau pamer kekayaan dan kedudukan, atau konflik batin dimana yang baik selalu kalah dan merana hidupnya.

Memang tak mudah bagi kita untuk "memaksa" para pengurus stasiun tivi di negeri ini untuk menampilkan tayangan tayangan yang selain menghibur juga mendidik.  Tapi setidaknya kita harus bisa memilih tayangan-tayangan mana yang layak kita saksikan. Jika sama-sama muak, matikan saja televisi kita...



Salam Ramah
Bogor, 10  Februari 2016

Review Buku : Good Fight


Judul : Good Fight
Pnulis : Chtistian Simamora
Penerbit: GagasMedia















Menjadi (Si)apa

Malam ini sehabis Isya, aku membeli nasi padang di daerah Balebak. Meski jauh dan sebenarnya banyak rumah makan padang lain yang lebih dekat, aku selalu beli di sana. Jika ditanya kenapa, aku pun tidak bisa menjelaskan alasannya. Bisa karna enak, bisa karena sudah klop dan biasa, bisa juga karena hal lainnya. Begitu nasi selesai dibungkus dan aku keluar dari rumah makan itu, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Salah satu yang membuatku cinta dengan kota ini adalah sifat-tiba-tiba-nya. Susah ditebak. Saat ini cuaca cerah, lima menit kemudian bisa mendung dan turun hujan dengan deras. Penuh kejutan.

Setiba di kamar, aku langsung mengganti baju dan celana, lantas menggantung pakaian yang basah terkena hujan. Sambil makan, seperti biasa aku nonton di laptop. Berhubung hardisk sedang dipinjam teman, aku jadi menonton serial Preman Pensiun yang aku download dari youtube dan masih ada di laptop. Episode 19, 20, dan 21. Di akhir episode 20, ada dialog menarik antara Kang Mus dan Kang Gobang. Percakapannya kurang lebih seperti ini, “ Kalau hidup gak ada susahnya, ga ada perjuangannya. Kalau gak ada perjuangannya, gak rame, gak seru, gak asik,” kata Kang Mus. Aku lansung saja ingat draft skripsi yang sudah minta direvisi. Tapi berhubung ceritanya nanggung, aku tonton dulu sampai episode 21. Setelahnya, aku mengerjakan revisi sampai tengah malam.

Setelah naik ke kasur, kantuk belum juga muncul. Aku kemudian membuka beberapa medsos. Di instagram aku melihat postingan baru dari Fiersa Besari. Postingan dan tulisannya selalu berhasil membuatku terkagum. Bukan hanya karena enak dibaca, tulisannya selalu mengandung makna yang membuat kita menelaah ulang apa yang kini banyak kita lupakan. Tulisannya malam ini tentang “menjadi legenda”, bahwa untuk menjadi legenda kita harus siap jungkir balik banting tulang, siap dicaci maki demi apa yang kita yakini. Berani melawan arus dan rintangan besar yang kapan saja akan menghalangi langkah kita. Lalu muncul di kepalaku gagasan seperti ini: “kalau menjadi biasa biasa saja sudah membuat kita senang, untuka apa menjadi legenda?” Tapi aku ingat lagi perkataan Kang Mus tadi, hidup yang biasa biasa itu gak rame, gak seru, gak asik.

Bogor, 4 Februari 2016