Curhat Edisi 3: Jatuh dan Kegagalan

Kalau mau lempar kesalahan, mungkin bisa menyalahkan nasi padang yang terlalu pedas (tapi enak). Mungkin juga bisa pada penjualnya yang ramah, atau pada orang yang memasak nasi padang dengan cabai yang terlalu banyak. Tapi toh semua tidak berdampak bila kita sendiri tidak membeli dan memakannya. Maksudnya memakan nasi padang, bukan memakan penjual atau memakan orang yang memasak nasi padang. Namun percayalah, menjadi orang yang senantiasa menyalahkan diri sendiri, meratapi kegagalan dan kebodohan diri adalah sama sekali tidak menyenangkan.

(17 April 2017) 

Pagi ini aku ada jadwal wawancara kerja dengan sebuah perusahaan  di Jakarta.  Persiapan berkas-berkas sudah siap dari semalam. Alarm pukul setengah 4 tadi berhasil membangunkanku di deringan kedua.  Aku mandi, shalat, dan sarapan.  Pukl 5:30 aku sudah siap dan berjalan menuju pintu kostan.  Di samping rak sepatu, perut tiba tiba mulas dan tak tertahankan.  Bergesa aku kembali melucuti pakaian dan berlari menuju kamar mandi.  Singkatnya, wawancara batal, karena fisik dan mental yang tidak siap.

Bicara mental, sungguh tidak enak menjadi orang yang selalu menyalahkan diri sendiri!  Sekembali dari kamar mandi dengan keputusan untuk batal berangkat wawancara, aku termenung. Tercenung sendiri, merasa menjadi orang paling gagal sedunia.  Menyalahkan mental yang lembek dan penakut.

Kemudian yang muncul di benak adalah wajah kedua orang tua. Malu rasanya. Tiba-tiba ingin sungkem dan minta maaf pada mereka.

0 komentar:

Posting Komentar