Sebiji Jarah

Jumat, 23 Juni 2017

***

Bulan Ramadhan kemarin tadinya aku berkeinginan menghabiskan sahur dan berbuka puasa full bersama keluarga.  Selain tidak banyak ajakan berbuka bersama, aku ingin lebih menikmati kebersamaan dengan keluarga.  Sudah sepetutunya aku bersyukur masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga.  Orang lain yang sudah memiliki kesibukan dan tinggal jauh dari orang tuaya tidak banyak memiliki kesempatan itu.  Namun di suatu siang, seorang teman mengirim pesan ke ponselku.  Dia punya rencana untukmembagi-bagi taksjil di jalanan. akhirnya tekadku buyar.  Ini kesempatan langka, pikirku.  Selain bisa bertemu dengan teman-teman lama, aku pun bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan.  Kan katanya barang siapa memberi makan untuk orang yang berpuasa, maka ia akan mendapat ganjaran setara dengan orang berpuasa itu.

Acara yang semula aku pikir hanya akan sederhana ternyata tidak.  Acaranya besar-besaran, melibatkan hampir semua kelas dalam satu angkatan SMA.  Pengumuman donasi disebar di berbagai media.  Hasilnya, donasi yang terkumpul sebanyak 2 juta lebih.

Eri, si penggagas berulang kali dalam grup khusus yang dibuat, mengingatkan bahwa bantuan sekecil apapun akan berguna.  Bahkan berupa seucap doa pun. Aku berpikir, apa gunanya sebuah doa?  maksudku, doa tidak secara langsung berpartisipasi dalam kegiatan. (astagfirullah)...  Belakangan aku pun belajar sesuatu darinya.  Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan seseorang, Allah pasti membalasnya (Az-Zalzalah: 7).  Seucap doa adalah sebuah kebaikan, dan kebaikan akan mendapat balasan.  Apalagi bila dilakukan pada bulan Ramadhan, balasannya akan berlipat lipat ganda.  Hal yang tidak aku pahami selama ini.
Maka ke depan, jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah doa.

0 komentar:

Posting Komentar