Konsultasi dan Bimbingan

Ketika pertama kali menghadap setelah sekian lama menghilang, yang menjadi pertanyaan dosen pembimbing skripsiku dulu adalah: “Kamu ke mana aja? Ngilang ga ada kabar. Putus cinta? Ada masalah sama pacar kamu?”


Lalu dengan celingukan aku menjawab, “Tidak, Bu”.

“ Bohong kamu. Kalau ada masalah cerita aja.”

Dosen pembimbingku memang the best. Tapi kenapa nyambungnya ke masalah cinta?
Pagi tadi, untuk kesekian kalinya, aku menghadap pembimbingku. Tentu yang aku konsultasikan adalah masalah tugas akhir, bukan masalah asmara. Meski sebenarnya, beliau juga tidak akan keberatan bila aku konsultasi masalah cinta.

Andaikata aku berani mengajukan berbagai pertanyaan seperti ini:
“Bu, jika seorang lelaki menyukai seorang wanita sudah hampir 5 tahun, apakah itu salah? Lalu apa yang harus dilakukan oleh lelaki itu?”

Pembimbingku mungkin menjawab, “Suruh laki laki itu untuk berani mengungkapkan cintanya. Lima tahun sudah terlalu lama bagi dia memendam perasaannya.”

“Tapi wanita yang disukainya masih punya pacar. Bahkan dalam rentang waktu lima tahun, si wanita sudah tiga kali berganti pacar. Bagaimana, Bu?”

Nah, untuk pertanyaan itu, aku sendiri tidak bisa menduga duga jawaban seperti apa yang akan dilontarkan pembimbingku. Mungkin beliau akan menyarankan untuk tetap maju. Sebelum janur kuning melengkung, kita masih ada kesempatan untuk menikung. Atau kemungkinan lainnya adalah beliau akan memberi saran untuk berhenti saja, mencari wanita lain yang masih available. “There are many fish in the sea. Go fishing!” . Atau karena penelitianku tentang jangkrik, beliau akan mengatakan seperti ini: “ Kalau jangkrik kalung susah didapat, cari jangkrik cliring yang kuat dan tahan banting”. Mungkin yang kemudian akan aku tanyakan adalah “Maksud kuat dan tahan banting itu apa ya, Bu?”

Kacau.

0 komentar:

Posting Komentar