Review Buku: Critical Eleven

Judul Buku:  Critical Eleven
Pengarang :  Ika Natassa
Penerbit  :  PT Gramedia Pustaka Utama


""Istri itu seperti biji kpi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, Le.  Kalau kita sebagai suami --yang membuat kopi-- memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar.  Aroma khasnya, rasa aslinya yang seharusnya tidak keluar, Le.  Rasanya nggak pas.  ....  Kalau kita sudah memilih yang terbaik, seperti ayah memilih ibu dan kamu memilih istri kamu, seperti memilih biji kopi yang terbaik, bukan salah mereka kalau rasanya kurang enak.  Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juka menunjukkan yang terbaik buat kita.""  (Halaman 55-56)

 Tanya Laetitia Baskoro (Anya) dan Aldebaran Risjad (Ale) pertama kali bertemu di dalam pesawat yang membawa mereka terbang ke Australia.  Anya bermaksud menonton konser Coldplay sementara Ale dalam perjalan kerja.  Keduanya duduk bersebelahan di dalam pesawat.  Anya yang awalnya merasa canggung karena secara tidak sengaja telah bersandar di pundaknya Ale ketika tertidur selama tiga jam, perlahan mulai merasa nyaman dengan Ale karena Ale adalah lelaki yang menyenangkan diajak ngobrol.  Keakraban begitu saja terjadi di antara keduanya secara halus tanpa terkesan dipaksakan.  Bahkan setelah mendarat, keduanya sepakat untuk bertukar nomor kontak.  Alasannya waktu itu Ale perlu bertanya tanya soal Australia kepada Anya yang terlihat memang sering datang ke negara itu.  Namun ternyata Ale tidak kunjung menghubungi Anya. Ale justru baru menghubungi Anya sebulan sejak pertemuan pertama mereka ketika keduanya telah berada di Indonesia.  
Ale merasa nyaman dengan sikap Anya, dan Anya menilai Ale adalah orang yang menyenangkan.  Seminggu setelah keduanya bertemu di Jakarta, mereka memutuskan untuk pacaran.  Pekerjaan Ale yang mengharuskan dia pulang pergi Jakarta- Meksiko membuat mereka harus menjalin hubungan jarak jauh.  Meski terasa sulit, keduanya tetap bisa menjaga hubungan mereka sampai tahun berikutnya, Ale melamar Anya dan mereka pun resmi menikah kemudian.  Ale dan Anya hidup dengan bahagia meski Ale hanya bisa tinggal di Indonesia selama lima minggu dan kembali ke tempat kerjanya lima minggu pula.  

Keduanya masih bisa berhubungan dengan baik sampai suatu ketika musibah menimpa mereka.  Anya mengalami keguguran beberapa minggu sebelum waktu  kelahiran yang telah diprediksikan dokter.  Kejadian ini menjadi pukulan telak bagi mereka berdua.  Tanpa sadar Ale mengucapkan kalimat yang terkesan menyalahkan Anya atas keguguran bayi mereka.  Meski Ale tidak bermaksud demikian, namun Anya merasa Ale telah menuduh dirinya membunuh bayi mereka.  Sejak saat itu hubungan suami istri mereka mulai merenggang.  Meski tidak sampai pada tahap perceraian, Anya dan Ale sudah tidak bersikap layaknya suami istri.   Kamar mereka terpisah.  Anya memperlakukan Ale layaknya benda yang bisa bernapas.  Dia bersikap dingin kepada lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya.  Konflik demi konflik silih berganti menghampiri mereka.  Meski sekuat  tenaga Ale berusaha mengembalikan hubungan mereka seperti awal-awal pernikahan mereka, Anya tetap belum bisa melupakan perkataan Ale yang telah sangat menyakiti dirinya.  Namun semakin kuat Anya berusaha menyingkirkan Ale dari hatinya, Anya justru mendapati dirinya masih sangat mencintai suaminya itu.


Ika Natassa sangat lihai dalam membawakan alur cerita.  Perubahan alur dari alur maju ke alur mundur, atau sebaliknya, terasa sangat lembut dan rapi.  Konflik demi konflik di dalam novel ini mengalir begitu saja.  Jangan aneh ketika baru saja memulai membaca, tahu-tahu kita sudah menghabiskan  setengah dari isi novel. Kejadian demi kejadian yang diceritakan pun sangat natural dan tidak terkesan dipaksakan.  Karakter tokoh yang diwujudkan benar-benar hidup sehingga kita merasa menyaksikan sendiri kejadian demi kejadian dalam novel.

0 komentar:

Posting Komentar