Lemariliterasi

Kisah Semut Ibrahim

Alkisah, ketika Nabi Ibrahim a.s dibakar oleh Raja Namrud, seekor semut tergopoh-gopoh membawa setetes air di tangannya. Ketika semut tersebut menuju tempat Ibrahim dibakar, dia bertemu dengan seekor gagak hitam.

"Wahai semut, apa yang kau bawa itu?" seru si Gagak.

"Aku sedang membawa air, wahai Gagak." jawab si Semut masih terengah kelelahan.

"Hendak kau bawa air itu?  Kenapa kau bersusah susah membawa air yang jumlahnya pun tidak banyak?" si Gagak kembali bertanya.

Sambil terus berjalan, si Semut berusaha tetap menjawab pertanyaan gagak, "Nabi Ibrahim dibakar Raja Namrud!  Aku hendak memadamkan api itu dengan air."

Si Gagak tergelak.  Perutnya sampai terasa sakit karena terlalu keras tertawa. "Apa kau sudah gila?  Mana bisa api itu padam hanya dengan air di tanganmu yang satu tetes pun jumlahnya kurang?"

"Entahlah. Aku hanya tidak suka berdiam diri saja melihat semua keburukan ini terjadi. Air di lautan juga berasal dari rintik-rintik yang kecil, bukan?  Semoga Tuhan melihat apa yang sedang kulakukan dan semoga Dia tahu kepada siapa aku berpihak."  Kata si Semut yang meneruskan perjalanan, menginggalkan si gagak yang kini sudah berhenti tertawa.


"The only thing necessary for the triumph evil is for good men to do nothing"
"Satu-satunya yang diperlukan untuk kemenangan kejahatan adalah untuk orang-orang baik tak melakukan apapun).” 
--Edmud Burke (1729-1797) - Nagarawan Irlandia
***

Kisah, Pendidikan dan Kemajuan Sebuah Bangsa

Aku percaya hal yang paling berperan dalam majunya sebuah bangsa adalah pendidikan.  Sebuah negara boleh saja memiliki wilayah yang luas.  Sebuah negara boleh saja memiliki sumber daya alam yang kaya.  Namun bila pendidikan bangsanya buruk, negara tersebut akan kesulitan untuk berkembang.

Pendidikan tidak hanya tentang duduk di satu ruangan, mendengarkan penjelasan dari guru, menulis hal yang perlu dibuku, menghafal ketika hendak ujian, dan evaluasi belajar sebagai acuan seberapa efektif pelajaran dilakukan.  Pendidikan (harusnya) juga berupa pengajaran tentang ahlak, moral, dan budi pekerti.  Orang pintar bisa saja menjadi penipu.  Orang pintar bisa saja menjadi pejabat yang korup.  Orang pintar bisa saja mengeksploitasi kekayaan alam demi kepentingan dirinya sendiri.  Namun orang yang berbudi pekerti yang baik tidak akan melakukan itu semua.

Budi pekerti yang baik tidak bisa diajarkan  hanya dengan dijejalkan di ruang kelas lewat ceramah-ceramah panjang yang menjenuhkan.  Pendidikan budi pekerti adalah pendidikan seumur hidup.  Caranya banyak.  Salah satunya lewat kisah-kisah yang bisa kita dapat darisebuah cerita.

Aku mulai khawatir terhadap anak-anak usia dini sekarang.  Mereka lebih tertarik menonton sinetron kejar tayang yang hanya mementingkan rating tanpa mempedulikan pengajaran kepada para penontonnya.  Terlebih para orang tua yang membiarkan hal ini terjadi.  Mereka justru malah yang pertama menyalakan televisi.  Coba hitung berapa banyak orang tua yang masih membacakan dongeng sebelum anaknya tidur?  Coba hitung berapa anak yang masih senang mendengarkan dongeng atau membaca cerita dari dongeng atau kisah lainnya yang syarat degan pengajaran pengajaran moral?


"With an education, you have everything you need to rise above all the noise and fulfill every last one of your dreams."
Michelle Obama- Istri Presiden Amerika Serikat ke-44


Lemariliterasi

 


Taufiq Ismail pernah menyebut Indonesia berada dalam kondisi “tragedi nol buku”, yaitu generasi yang tidak membaca satu pun buku dalam satu tahun. Orang Indonesia adalah masyarakat penonton, bukan masyarakat pembaca, apalagi penulis.   Kita lebih senang menonton film yang diadaptasi dari buku dibanding membaca sendiri bukunya.  Kilahnya banyak; harga tiket  nonton yang lebih murah dari harga bukunya-lah, waktu menonton yang lebih singkat dari membaca-lah, dan sebagainya. Kita cenderung ingin mencapai “puncak kenikmatan” tanpa benar-benar belajar menikmati proses.

Buku adalah gudang ilmu.  Begitu pepatah lama bicara.   Sayangnya, kebanyakan dari kita masih menganggapnya angin lalu belaka. Padahal dari buku, kita bisa mendapatkan banyak pelajaran.  Dari buku kita bisa mendapat pesan moral yang dapat kita jadikan teladan.

Berawal dari kecintaannya terhadap buku, Fiersa Besari, seorang aktivis penggiat membaca, membuat sebuah akun instagram.  Di dalam akun itu dia memposting ulasan dari berbagai jenis buku. Seiring waktu, akun itu semakin besar. Berangkat dari sana, Fiersa Besari bersama teman-temannya mulai mendirikan komunitas Pecandu Buku yang memiliki perpustakaan sendiri.  Aku pun tertarik untuk mengikuti jejaknya. Maka dari itu aku ikut membuat akun baru di instagram.  Sejujurnya, terlalu muluk bila aku ingin mengikuti Fiersa Besari untuk mendirikan sebuah komunitas. Targetku kini sederhana saja, bisa menyediakan referensi bagi orang-orang yang ingin membaca atau membeli sebuah buku.

Seperti yang sudah kusebut barusan, target dari lemariliterasi adalah untuk  menyediakan referensi bagi orang-orang yang ingin membaca atau membeli sebuah buku. Semoga ini tidak melenceng ke arah lain seperti endorse atau mengumpulkan follower sebanyak banyaknya.

Semoga dengan dibuatnya akun lemariliterasi , apa yang kulakukan akan setara dengan semut Ibrahim yang berusaha memadamkan api.  Semoga  ini termasuk upaya dalam memajukan negara Indonesia.

Iqra’.  Bismirabbikalladzi khalaq
Bacalah.  Dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan.
(Q.S. Al Alaq ayat 1, Wahyu pertama yang diturunkan Allah)


0 komentar:

Posting Komentar