Balada Sebuah Apel

Day 18
********



Suatu hari aku memiliki sebuah apel.  Apel itu bentuknya sangat simetri.  Kulitnya merah mengilap dan mulus.  Tidak ada bekas ulat atau serangga pernah hinggap di kulit itu.  Ukurannya tidak terlalu besar memang, namun cukup untuk dimasukkan ke dalam golongan apel unggul.  Apel berbentuk demikian dengan hanya melihatnya saja kita sudah bisa menebak rasanya, pasti manis dan bertekstur lembut.

Aku merasa apel itu adalah apel terbaik yang pernah aku miliki, sehingga sayang jika aku habiskan seorang diri.  Aku ingin seseorang turut merasakan enaknya apel yang kumiliki.  Karena itu apel terbaik, tentu saja aku tidak akan sembarangan dalam memilih orang yang akan kubagi.  Orang itu harus sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah kutentukan sendiri.  Atau meski tidak memenuhi kriteria, orang tersebut setidaknya adalah orang yang sangat mencintai apel dan sangat menginginkan apel yang kumiliki.

Suatu ketika aku menemukan orang yang menurutku memenuhi kriteria untuk kuberi bagian dari apel yang kumiliki.  Aku menawarkan apel itu tanpa syarat.  Namun ternyata orang itu sedang tidak ingin makan apel.  Dia memang suka buah apel, tetapi saat kutawari, dia sedang tidak ingin memakannya.  Ada satu dan lain hal yang membuat dia tidak ingin makan apel. Diantaranya adalah dia sedang diet buah buahan.  Aku mengerutkan kening mendengarnya.  Memangnya ada diet seperti itu?  Namun jika dia sudah berkata begitu, aku bisa apa?

Kemudian tanpa sengaja aku bertemu dengan seseorang yang menyukai apel.  Sayangnya, ketika kusodorkan apel milikku, telah ada satu buah apel lain di tangannya.  Dia bilang apel itu juga pemberian dari orang lain.  Dia sempat menerima apel yang kutawarkan.  Dia menimang nimang kedua apel yang berada di tangannya, mempertimbangkan apel mana yang akan dia makan.   Ternyata bukan apel pemberianku yang dia pilih.  Alasannya adalah dia telah terlanjur memakan apel yang terlebih dahulu dia pegang tadi.  Dia tidak ingin mengambil resiko dengan membuang apel yang telah setengahnya dia makan dan mengambil apel pemberianku.  Menurutnya, aku adalah orang yang baru dikenalnya sehingga dia belum sepenuhnya percaya bahwa apel pemberianku adalah apel unggul, apel yang baik untuk dirinya.  Dikembalikannya lah apel milikku yang tadi sempat dipegangnya.

Sebenarnya aku merasa lelah mencari orang yang dapat menerima apelku dengan baik.  Namun jika aku berhenti mencari, aku tidak akan menemukan orang itu.  Maka aku kembali berdiri, mencari-cari orang yang layak untuk kuberi apel terbaik milikku.

Saat ini, aku tengah menaksir seseorang untuk kutawari apel milikku.  Sebenarnya sudah dari dulu aku ingin memberikan apel ini kepadanya.  Hanya aku merasa belum menemukan waktu yang tepat.  Tidak jarang orang itu mendapat apel dari orang lain.  Aku pun menyaksikan dia memakannya dengan lahap. Tidak apa-apa.  Jika itu bukan apel terbaik, maka seberapapun dia memakannya tidak akan membuat perutnya kenyang.  Dan jikalau apel itu memang apel yang baik, aku rela dia memakan apel dari orang lain itu.  Toh itu (menurutnya) adalah untuk kebaikan dirinya sendiri.  Namun aku belum patah harapan.  Suatu saat aku ingin benar-benar menawarinya apel yang kumiliki.  Semoga dia suka  dan mau memakannya.  Masalah apel yang saat ini ada di tangannya, aku anggap itu urusan belakangan.  Biarkan dia sendiri memilih apel mana yang akan dimakannya.

Ketika mendapat penolakan aku memang merasa sedih dan sangat kecewa.  Tidak jarang hal itu membuatku jatuh dan patah semangat.  Namun ada sesuatu dalam hatiku yang berkata bahwa aku harus yakin bahwa aku adalah orang yang baik sehingga apel yang ingin kuberikan adalah apel yang baik pula.  Aku mungkin sedih dan kecewa atas penolakan-penolakan yang kualami, tapi apelku, sekali lagi, adalah apel yang bagus.  Jika orang lain menolaknya maka bukan aku yang rugi, tapi orang yang menolak itulah yang rugi.  Dia tidak jadi mendapat apelku.  Bagiku, tidak ada kerugian sama sekali.  Maka yang harus aku lakukan adalah terus memperbaiki diri, terus memantaskan diri agar mau tidak mau orang yang akan kutawari apel akan menerima apel pemberianku.  Aku juga harus  menjaga agar apelku tidak terkotori atau rusak karena suatu hal pun.  Ketika waktunya tiba, Tuhan sendirilah yang akan menunjukkan siapa orang yang pantas menerima apel yang kumiliki, dan orang itu akan dengan senang hati menerima apel pemberianku.

1 komentar:

Isro.nsk mengatakan...

Tersimpan makna yg sangat berarti👍👍

Posting Komentar