Saturday Night

Day 10
*******



Malam ini.
"Kenapa sih di Indonesia ini harus ada tradisi malem mingguan?  Bikin macet aja tau!," kamu memekik kesal. Sayang aku tidak bisa melihat wajahmu karena aku tak mungkin membalikkan badanku di atas motor.  Lagipula mataku harus fokus pada jalanan di depan.  Padahal aku selalu suka melihat raut wajah kesalmu.

"Mungkin orang Indonesia merasa sibuk dan jenuh beraktifitas sepanjang minggu hingga merasa perlu penyegaran di malam minggu," jawabku.

"Sibuk apanya?  Kebanyakan yang malam mingguan itu kan  para pemuda yang mau pacaran. Lagian kenapa harus malam minggu?  kenapa ga malem sabtu atau malem-malem yang lain?" katamu lagi, masih dengan nada ketus.

"Karena besoknya hari minggu, libur.  Jadi mereka bisa begadang semalaman." 

"Emang iya? Harus begitu yah?" 

"Engga juga sih.  Heheheh.."  jawabku.

Motor yang kami kendarai memasuki pertigaan tanpa lampu merah.  Sopir-sopir yang tidak sabar memaksakan mobilnya untuk masuk jalan utama.  Tentu saja hal ini memancing kemarahan sopir lain.  Mereka yang tidak terima--dengan tidak sabar pula-- membunyikan klaksonnya keras keras.  Bahkan di antara mereka kudengar ada yang sambil memaki, mengeluarkan kata-kata kotor. 

"Kamu ga bisa nyelip-nyelip yah?  masuk diantara celah mobil-mobil gitu?" katamu.

"Mau nyelip gimana mobilnya juga pada nggak ngasih celah."

"Kalo ga cepet martabaknya keburu dingin. Ga enak kalo udah dingin."

"Iya, Neng, sabar yah..."

***


Dua tahun lalu.

"Hai, namaku Andiana.  Salam kenal semuanya." tulismu di chat grup kita.  Beberapa teman yang lain merespin perkenalanmu dengan menyebut nama mereka masing masing. Aku pun tidak mau kalah.

"Hallo Andiana. Salam kenal juga. Namaku Danial, tapi biasa dipanggil Omen.  jangan tanya kenapa bisa gitu, aku juga ga ngerti. hahahah" tulisku.

"Hai Danial, eh Omen.  Jauh banget yah panggilannya.haha" jawabmu

Lalu setelah itu, percakapan kita pun mengembang.  Teman-teman yang lain pun ikut menanggapi.  Obrolan di grup semakin ramai.  Satu hari bisa sampai 100 percakapan yang muncul.  Kita membahas apa tentang segala hal, mulai dari perang stiker, sampai masalah-masalah penting yang memang perlu didiskusikan.  Membuka grup chat menjadi menyenangkan.  Aku bisa membaca celotehan-celotehan polos yang anak anak tuliskan. Benar-benar menyegarkan.

Hari berganti. Pertemuan diantara kita semakin sering saja.  Meski sebenarnya hanya berupa makan malam bersama, tapi hal itu sungguh menyenangkan.  Sangat berbeda dengan ketika kita melakukannya seorang diri. Berteman tidak pernah kusangka semenyenangkan ini.
 


0 komentar:

Posting Komentar